Bank Sentral Eropa Mulai Pindahkan Emas dari AS, Risiko Geopolitik Jadi Pertimbangan

Jakarta, 11 September 2026 – Sejumlah bank sentral di Eropa mulai meninjau ulang lokasi penyimpanan cadangan emas mereka di Amerika Serikat dan Amerika Utara di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Langkah paling menonjol dilakukan bank sentral Belanda, De Nederlandsche Bank, yang memindahkan sekitar 86 ton emas dari New York dan Ottawa menuju London dalam periode Maret hingga Agustus 2026. Kebijakan tersebut tidak berarti Belanda menjual atau mengurangi total cadangan emasnya, melainkan mengubah komposisi lokasi penyimpanan agar aset lebih mudah diakses dan diperdagangkan ketika terjadi krisis. Perubahan strategi tersebut berlangsung ketika hubungan trans-Atlantik menghadapi ketidakpastian sekaligus meningkatnya perhatian terhadap keamanan aset negara yang disimpan di luar negeri. Prancis juga telah melakukan pemindahan sebagian cadangan emas dari New York ke Eropa, sementara di Jerman muncul kembali perdebatan mengenai emas yang masih tersimpan di Amerika Serikat. Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan mengenai apakah bank sentral Eropa mulai mengurangi ketergantungan terhadap AS sebagai tempat penyimpanan aset strategis.

Belanda menjadi contoh terbaru karena melakukan perubahan cukup besar terhadap distribusi cadangan emasnya. Bank sentral negara tersebut memiliki sekitar 612 ton emas dan selama bertahun-tahun menyimpannya di beberapa pusat berbeda sebagai bagian dari strategi diversifikasi. Setelah perubahan terbaru, porsi emas Belanda yang ditempatkan di London meningkat secara signifikan, sementara porsi di New York dan Ottawa berkurang. Sebagian perpindahan dilakukan melalui pengiriman emas fisik, sedangkan sebagian lainnya dilakukan dengan menjual emas di satu pusat perdagangan kemudian membeli jumlah setara di London. Strategi tersebut memungkinkan perubahan lokasi dilakukan tanpa harus mengangkut seluruh emas secara fisik melintasi Atlantik. London dipilih karena merupakan salah satu pusat perdagangan emas fisik terbesar dan paling likuid di dunia.

Alasan resmi di balik keputusan tersebut terutama berkaitan dengan kesiapan menghadapi krisis dan kemudahan mengakses cadangan. Emas bagi bank sentral tidak hanya berfungsi sebagai penyimpan nilai, tetapi juga sebagai aset strategis yang dapat digunakan ketika sistem keuangan menghadapi tekanan berat. Dalam kondisi darurat, kemampuan menjual, menukar, atau menggunakan emas sebagai jaminan menjadi faktor penting. Menyimpan sebagian besar cadangan terlalu jauh dari kawasan sendiri dapat menciptakan persoalan ketika akses terhadap aset terganggu. Karena itu, bank sentral biasanya membagi emas ke beberapa lokasi untuk mengurangi risiko konsentrasi. Perubahan kondisi geopolitik kemudian dapat membuat komposisi tersebut dievaluasi kembali.

Ketidakpastian geopolitik menjadi salah satu faktor yang semakin diperhatikan dalam beberapa tahun terakhir. Pembekuan aset negara akibat konflik internasional menunjukkan bahwa cadangan yang ditempatkan di luar negeri tidak selalu sepenuhnya bebas dari risiko politik. Pengalaman Rusia setelah invasi Ukraina menjadi salah satu contoh bagaimana aset cadangan luar negeri dapat terkena pembatasan ketika hubungan antarnegara memburuk. Kasus Venezuela juga sebelumnya memperlihatkan bagaimana akses terhadap emas yang disimpan di luar negeri dapat menjadi persoalan hukum dan politik. Situasi tersebut membuat bank sentral semakin mempertimbangkan bukan hanya keamanan fisik tempat penyimpanan, tetapi juga risiko yurisdiksi. Memiliki emas secara fisik tidak selalu sama dengan memiliki akses tanpa batas terhadap aset tersebut apabila penyimpanannya berada di negara lain.

Kebijakan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut menjadi bagian dari konteks perdebatan di Eropa. Perubahan hubungan Washington dengan sejumlah sekutu tradisional, kebijakan perdagangan, serta meningkatnya ketegangan geopolitik membuat sebagian kalangan mempertanyakan tingkat ketergantungan Eropa terhadap infrastruktur keuangan Amerika. Namun, pemindahan emas tidak dapat secara sederhana dianggap sebagai bentuk ketidakpercayaan total terhadap AS. Federal Reserve Bank of New York masih menjadi salah satu lokasi penyimpanan emas paling penting dan dipercaya berbagai bank sentral dunia. Infrastruktur, keamanan, serta kedalaman pasar keuangan Amerika tetap menjadi alasan kuat untuk mempertahankan sebagian cadangan di sana. Karena itu, langkah yang terlihat saat ini lebih tepat dipandang sebagai diversifikasi risiko daripada penarikan total dari sistem keuangan AS.

Prancis juga menjadi bagian dari perubahan strategi penyimpanan emas tersebut. Sebagian emas yang sebelumnya ditempatkan di New York telah dipindahkan kembali ke Eropa. Pertimbangannya tidak sepenuhnya sama dengan Belanda karena terdapat pula faktor teknis terkait karakteristik dan standar emas yang disimpan. Perbedaan alasan tersebut menunjukkan tidak semua pemindahan cadangan emas Eropa memiliki motivasi politik yang identik. Setiap bank sentral menentukan lokasi penyimpanan berdasarkan kebutuhan likuiditas, keamanan, biaya, kualitas emas, dan strategi cadangan masing-masing. Namun, berbagai keputusan tersebut memiliki satu kesamaan, yakni meningkatnya perhatian terhadap kemampuan mengendalikan dan mengakses aset secara langsung ketika dibutuhkan.

Jerman menjadi negara yang paling banyak diperhatikan karena memiliki cadangan emas terbesar di Eropa. Sebagian besar emas Jerman telah berada di Frankfurt setelah program repatriasi besar yang dilakukan beberapa tahun lalu, tetapi jumlah signifikan masih disimpan di New York. Di dalam negeri kembali muncul desakan dari sejumlah ekonom dan politisi agar lebih banyak emas dibawa pulang. Bundesbank sejauh ini tetap mempertahankan keyakinannya terhadap keamanan cadangan yang berada di Amerika Serikat dan belum melakukan penarikan menyeluruh. Perbedaan sikap tersebut menunjukkan bahwa belum ada kebijakan bersama seluruh bank sentral Eropa untuk meninggalkan penyimpanan emas di AS. Masing-masing negara masih mengambil keputusan berdasarkan penilaian risiko sendiri.

Fenomena ini juga terjadi ketika posisi emas sebagai aset cadangan kembali menguat. Ketidakpastian geopolitik, perubahan kebijakan moneter, tekanan inflasi, dan konflik internasional membuat bank sentral di berbagai negara meningkatkan perhatian terhadap logam mulia. Emas memiliki karakter berbeda dibandingkan obligasi pemerintah maupun mata uang asing karena tidak bergantung langsung pada kewajiban pembayaran pihak lain. Dalam kondisi ekstrem, karakter tersebut membuat emas dipandang sebagai salah satu bentuk perlindungan terhadap risiko sistem keuangan. Namun, emas juga memiliki persoalan penyimpanan, keamanan, transportasi, dan likuiditas yang harus diperhitungkan. Karena itulah bank sentral biasanya tidak menempatkan seluruh cadangannya hanya di satu negara atau satu fasilitas.

Perpindahan cadangan tersebut juga tidak otomatis berarti Eropa sedang melakukan dedolarisasi secara besar-besaran. Lokasi penyimpanan emas dan komposisi cadangan devisa merupakan dua persoalan yang berbeda. Sebuah bank sentral dapat memindahkan emas dari New York tetapi tetap memiliki aset dalam dolar AS maupun obligasi pemerintah Amerika dalam jumlah besar. Dolar masih memiliki posisi dominan dalam sistem keuangan internasional karena kedalaman pasar, penggunaannya dalam perdagangan, serta besarnya pasar obligasi pemerintah AS. Perubahan terhadap dominasi tersebut biasanya berlangsung secara bertahap dan membutuhkan alternatif dengan tingkat likuiditas yang sebanding. Pemindahan emas karena itu lebih menunjukkan meningkatnya kehati-hatian dalam mengelola risiko daripada bukti bahwa dolar segera kehilangan perannya.

Pergerakan emas dari Amerika Serikat dan Amerika Utara pada akhirnya memperlihatkan perubahan cara bank sentral Eropa memandang keamanan cadangan di tengah lingkungan geopolitik yang semakin tidak pasti. Belanda telah melakukan perubahan nyata dengan memindahkan puluhan ton emas dan meningkatkan porsi yang disimpan di London, sementara negara lain mengevaluasi strategi masing-masing. Faktor utama yang dipertimbangkan mencakup akses ketika krisis, likuiditas, diversifikasi lokasi, keamanan hukum, dan risiko geopolitik. Amerika Serikat masih menjadi pusat keuangan utama dan tempat penyimpanan emas penting bagi banyak negara sehingga belum terlihat eksodus menyeluruh dari New York. Namun, kecenderungan menempatkan lebih banyak aset strategis di lokasi yang lebih mudah dikendalikan menunjukkan bahwa bank sentral semakin memperhitungkan skenario krisis yang sebelumnya dianggap kecil kemungkinannya. Jika ketegangan geopolitik terus meningkat, perdebatan mengenai lokasi penyimpanan cadangan emas kemungkinan akan semakin kuat di berbagai negara Eropa.