Jakarta, 5 Mei 2026 – Sekitar 170 ribu anak di Sulawesi Selatan dilaporkan tidak melanjutkan pendidikan formal. Mayoritas dari mereka berada pada usia sekolah menengah atas dan memilih untuk bekerja dibandingkan melanjutkan sekolah.
Fenomena ini menjadi perhatian serius karena berpotensi memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan. Banyak dari anak-anak tersebut terpaksa bekerja untuk membantu perekonomian keluarga, terutama di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat.
Selain faktor ekonomi, kurangnya akses pendidikan dan minimnya motivasi belajar juga disebut sebagai penyebab tingginya angka putus sekolah. Beberapa wilayah masih menghadapi keterbatasan fasilitas pendidikan yang memadai.
Pemerintah daerah didorong untuk mengambil langkah konkret dalam mengatasi persoalan ini, termasuk melalui program bantuan pendidikan dan pelatihan keterampilan. Upaya ini dinilai penting agar anak-anak tetap memiliki peluang untuk meningkatkan kualitas hidup.
Pengamat pendidikan menilai bahwa solusi jangka panjang harus mencakup perbaikan sistem pendidikan serta dukungan sosial bagi keluarga kurang mampu. Tanpa intervensi yang tepat, angka putus sekolah dikhawatirkan terus meningkat.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa pendidikan masih menjadi tantangan di sejumlah daerah. Diperlukan kolaborasi berbagai pihak untuk memastikan setiap anak mendapatkan haknya untuk mengenyam pendidikan.