Janice Tjen Absen di Asian Games 2026 demi Jaga Peringkat dan Peluang ke Australian Open

Jakarta, 18 September 2026 – Petenis putri andalan Indonesia Janice Tjen harus mengambil keputusan sulit dengan melewatkan Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Keputusan tersebut bukan disebabkan cedera, melainkan benturan jadwal dengan China Open di Beijing yang berstatus turnamen WTA 1000 wajib. Janice telah berusaha mendapatkan pengecualian agar tetap dapat membela Indonesia tanpa menghadapi konsekuensi terhadap kewajibannya di WTA Tour. Namun, permintaan terkait aturan poin tidak mendapatkan pengecualian yang dibutuhkan. Kondisi itu membuat Janice harus memilih antara tampil di Asian Games atau mempertahankan jalur kompetisinya di WTA. Setelah mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap peringkat dunia, Janice akhirnya memilih melanjutkan agenda WTA dan tidak memperkuat Indonesia di Asian Games.

Janice mengungkapkan keputusan tersebut merupakan salah satu pilihan yang tidak mudah dalam perjalanan kariernya. Petenis berusia 24 tahun itu sebelumnya mempunyai pengalaman membela Merah Putih dalam berbagai kompetisi internasional. Kesempatan kembali memperkuat Indonesia pada pesta olahraga terbesar Asia tentu mempunyai arti tersendiri baginya. Namun, jadwal kompetisi tenis Asian Games beririsan dengan China Open yang berlangsung di Beijing. Posisi Janice dalam peringkat dunia membuat agenda WTA tersebut mempunyai pengaruh penting terhadap kelanjutan musimnya. Ia akhirnya harus mengorbankan kesempatan tampil di Jepang untuk menjaga kepentingan karier profesional dan target kompetisi berikutnya.

Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia sebenarnya telah berupaya mencari jalan agar Janice tetap dapat tampil di Asian Games. Sekretaris Jenderal Pelti Andi Fajar mengatakan komunikasi mengenai persoalan tersebut telah dilakukan bersama pihak terkait sejak jauh hari. Pelti bahkan mengirimkan permohonan resmi kepada WTA untuk meminta kebijakan khusus mengenai konsekuensi poin apabila Janice memilih tampil membela Indonesia. Federasi berharap Janice dapat mengikuti Asian Games tanpa kehilangan posisi penting dalam sistem peringkat WTA. Namun, menurut Pelti, WTA tidak dapat memberikan pengecualian terhadap konsekuensi poin tersebut. Keringanan yang memungkinkan hanya berkaitan dengan penalti akibat ketidakhadiran, bukan dampak zero point terhadap peringkat pemain.

Pelti menegaskan persoalan utama yang dihadapi Janice sebenarnya bukan semata-mata denda finansial. Federasi bahkan menyatakan siap menanggung penalti apabila masalahnya hanya berkaitan dengan pembayaran denda karena melewatkan turnamen wajib. Hal yang jauh lebih penting adalah potensi kehilangan poin dan dampaknya terhadap posisi Janice dalam peringkat dunia. Berdasarkan perhitungan Pelti, terdapat sekitar 405 poin yang perlu dipertahankan Janice hingga Desember 2026. Kehilangan poin dalam jumlah tersebut dapat membuat peringkatnya turun pada periode penting menjelang penyusunan daftar peserta turnamen besar musim berikutnya. Pertimbangan inilah yang kemudian membuat keputusan untuk tetap menjalani agenda WTA dipandang lebih penting bagi perjalanan karier jangka panjang Janice.

Target besar di balik keputusan tersebut adalah menjaga peluang Janice tampil di Australian Open 2027. Pelti menilai peringkat yang dimiliki Janice saat ini perlu dipertahankan agar peluang masuk ke babak utama Grand Slam di Melbourne tetap terbuka. Penurunan peringkat akibat kehilangan poin berpotensi membuat jalur menuju Australian Open menjadi lebih sulit. Karena itu, keputusan melewatkan Asian Games tidak hanya dilihat berdasarkan satu turnamen, tetapi menjadi bagian dari perencanaan karier yang lebih panjang. Pelti juga mengaitkan konsistensi tampil di turnamen besar dengan target Janice menuju Olimpiade Los Angeles 2028. Pengalaman bertanding di level Grand Slam dan mempertahankan posisi tinggi dalam peringkat dunia dinilai menjadi bagian penting dari perjalanan menuju target tersebut.

Situasi Janice menjadi semakin menarik karena petenis Filipina Alexandra Eala menghadapi dilema hampir serupa. Eala yang berada di peringkat 18 dunia juga harus memilih antara Asian Games dan China Open yang berstatus WTA 1000 wajib. Berbeda dengan Janice, Eala memutuskan tetap memperkuat Filipina di Aichi-Nagoya meskipun terdapat risiko konsekuensi dari WTA apabila permohonan pengecualiannya tidak dikabulkan. Asosiasi tenis Filipina telah meminta pengecualian kepada WTA agar Eala dapat membela negaranya tanpa menerima penalti. Keputusan Eala tersebut dapat membuatnya menghadapi denda dan konsekuensi terhadap poin peringkat apabila tidak memperoleh pengecualian. Perbedaan pilihan kedua pemain kemudian menimbulkan perhatian karena masing-masing mempunyai kondisi peringkat dan distribusi poin yang tidak sama.

Pelti menjelaskan kondisi Janice tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan Eala. Menurut Andi Fajar, distribusi poin Eala sepanjang musim membuat posisinya relatif lebih aman untuk mengejar tempat di Australian Open. Janice mempunyai situasi berbeda karena masih membutuhkan poin yang harus dipertahankan hingga akhir tahun. Karena itu, konsekuensi kehilangan poin dapat memberikan pengaruh lebih besar terhadap target kompetisinya pada awal musim 2027. Pelti menilai setiap pemain mempunyai perhitungan tersendiri berdasarkan peringkat, jumlah poin, serta turnamen yang telah dimainkan. Keputusan Janice dengan demikian diambil berdasarkan kondisi spesifik yang sedang dihadapinya, bukan sekadar pertimbangan mengenai besarnya penalti finansial.

Absennya Janice menjadi kehilangan bagi kontingen tenis Indonesia mengingat perkembangannya dalam beberapa musim terakhir. Ia telah menjadi salah satu pemain putri Indonesia yang mampu bersaing secara konsisten dalam rangkaian turnamen internasional. Janice juga mempunyai pengalaman memperkuat tim nasional dan membantu Indonesia dalam kompetisi beregu. Keberadaannya semula diharapkan dapat meningkatkan kekuatan Indonesia dalam persaingan tenis Asian Games. Namun, kalender tenis profesional yang padat membuat kepentingan tim nasional dan kewajiban pemain dalam tur profesional tidak selalu dapat berjalan bersamaan. Benturan antara Asian Games dan China Open tahun ini menjadi contoh bagaimana seorang pemain harus mempertimbangkan dampak keputusan terhadap target jangka pendek maupun perjalanan karier beberapa musim ke depan.

Janice sendiri tetap menegaskan kebanggaannya terhadap kesempatan-kesempatan yang selama ini diperoleh untuk mewakili Indonesia. Tidak tampil di Asian Games kali ini tidak mengubah komitmennya untuk membela Merah Putih pada kesempatan lain ketika kalender memungkinkan. Keputusan tersebut justru diambil setelah melalui pertimbangan bersama mengenai bagaimana menjaga perkembangan kariernya di level tertinggi. Pelti juga telah berkoordinasi dengan pemerintah mengenai situasi yang dihadapi Janice. Federasi menempatkan peluang menuju Australian Open dan target Olimpiade sebagai bagian dari program jangka panjang sang pemain. Dengan menjaga peringkat dunia, Janice diharapkan tetap mendapatkan akses terhadap turnamen-turnamen besar yang dapat memperkuat posisinya di level internasional.

Keputusan melewatkan Asian Games 2026 pada akhirnya menjadi pilihan berat antara membela Indonesia pada satu ajang besar dan menjaga kesinambungan karier profesional di WTA Tour. Bagi Janice, konsekuensi kehilangan poin menjadi faktor utama karena dapat memengaruhi peluangnya tampil di Australian Open 2027. Pelti bahkan siap menanggung denda apabila persoalannya hanya menyangkut penalti finansial, tetapi federasi tidak dapat menghindari dampak sistem peringkat WTA. Situasi tersebut membuat Janice memilih menjalani China Open dan mempertahankan peluangnya bersaing di level tertinggi tenis dunia. Meski Indonesia kehilangan salah satu pemain putri terbaiknya di Aichi-Nagoya, keputusan itu ditempatkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang menuju Grand Slam dan Olimpiade. Janice kini harus memanfaatkan rangkaian turnamen berikutnya untuk mempertahankan peringkat sekaligus membuktikan bahwa keputusan sulit tersebut dapat mendukung perkembangan kariernya dalam jangka panjang.