Semarang, 7 September 2026 – Singgih Gunarsa mengaku sangat terkejut dan syok ketika mendapatkan kabar bahwa putrinya, Mozza Axillia Gunarsa, yang menghilang sejak Juni 2025 akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Penantian keluarga selama lebih dari satu tahun untuk mengetahui keberadaan Mozza berakhir setelah polisi menemukan kerangka manusia di sebuah jurang dekat Jalan Tol Jangli, Kota Semarang. Keluarga kemudian mengikuti proses identifikasi untuk memastikan identitas kerangka tersebut. Berdasarkan sejumlah ciri yang diperiksa, keluarga memastikan jenazah tersebut merupakan Mozza. Kepastian itu menjadi pukulan berat bagi keluarga yang sebelumnya masih berharap Mozza dapat ditemukan dalam keadaan selamat. Kasus tersebut kini ditangani kepolisian sebagai perkara dugaan pembunuhan. Seorang pria berinisial MDVA atau Mahendra Very Dwi Anggara telah diamankan untuk menjalani proses hukum.
Singgih menceritakan kabar mengenai penemuan putrinya pertama kali diperoleh dari seorang teman yang berada di Salatiga. Rekannya memiliki jaringan komunikasi dengan anggota kepolisian di Kota Semarang dan kemudian menyampaikan informasi mengenai perkembangan pencarian Mozza. Singgih awalnya mendapatkan kabar bahwa putrinya telah ditemukan, tetapi informasi berikutnya menyebut kondisi Mozza sudah meninggal dunia. Kabar tersebut membuat keluarga sangat terpukul karena selama setahun mereka terus berusaha mencari keberadaan Mozza. Singgih mengaku tidak pernah membayangkan pencarian panjang itu akan berakhir dengan kabar kematian putrinya. Meski demikian, keluarga berusaha memastikan sendiri informasi yang diterima dengan mengikuti proses identifikasi. Kepastian identitas menjadi hal penting setelah begitu lama keluarga hidup dalam ketidakjelasan mengenai keberadaan Mozza.
Pada Jumat, 4 September 2026, Singgih sebenarnya telah memiliki agenda untuk mendatangi Polres Semarang guna mengambil tablet milik Mozza yang sebelumnya diperiksa penyidik. Setelah memperoleh kabar mengenai penemuan jenazah, ia kemudian menyampaikan informasi tersebut kepada petugas. Keluarga selanjutnya mendapatkan bantuan untuk menuju Rumah Sakit Bhayangkara Semarang dan mengikuti proses identifikasi. Pemeriksaan dilakukan terhadap sejumlah karakteristik fisik dan petunjuk lain yang masih dapat digunakan untuk mengenali korban. Dari proses tersebut, keluarga akhirnya mendapatkan kepastian bahwa kerangka yang ditemukan polisi merupakan Mozza. Setelah proses identifikasi selesai, jenazah diserahkan kepada keluarga. Pada malam harinya, keluarga membawa pulang jenazah dan melakukan pemakaman di kampung halaman.
Mozza diketahui meninggalkan rumahnya di Desa Gebugan, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, pada 25 Juni 2025. Ketika itu, ia berpamitan kepada keluarga dengan alasan hendak mengantarkan seorang temannya ke wilayah Kota Semarang. Namun, setelah meninggalkan rumah, Mozza tidak kunjung kembali dan sulit dihubungi. Keluarga kemudian berusaha mencari melalui teman, kerabat, dan sejumlah tempat yang diduga pernah dikunjungi Mozza. Laporan orang hilang secara resmi dibuat pada 28 Juni 2025 atau tiga hari setelah Mozza terakhir meninggalkan rumah. Dalam perkembangan awal pencarian, sejumlah barang milik Mozza ditemukan secara terpisah di wilayah Semarang. Namun, keberadaan Mozza sendiri tetap tidak diketahui sehingga pencarian berlangsung selama berbulan-bulan. Keluarga terus menyebarkan informasi dan berharap mendapatkan petunjuk yang dapat membawa mereka kepada Mozza.
Titik terang baru muncul ketika Singgih berhasil mengakses sejumlah akun media sosial milik putrinya melalui perangkat elektronik yang masih tersimpan. Ia menemukan akun Instagram dan TikTok Mozza masih terhubung dengan alamat surat elektronik yang dapat dipulihkan. Setelah mengganti kata sandi dan kembali membuka akun tersebut, Singgih memeriksa percakapan yang tersimpan. Salah satu komunikasi yang menarik perhatian adalah percakapan antara Mozza dengan seorang pria yang kemudian diketahui sebagai MDVA. Dari percakapan tersebut, pria itu disebut beberapa kali mengajak Mozza datang ke tempat indekosnya di kawasan Candisari, Kota Semarang. Informasi mengenai komunikasi tersebut kemudian disampaikan kepada kepolisian sebagai petunjuk tambahan. Temuan digital itu menjadi bagian penting yang membantu penyidik mempersempit pencarian terhadap orang yang terakhir diketahui berinteraksi dengan Mozza.
Polisi kemudian melakukan penelusuran berdasarkan percakapan tersebut hingga mendatangi sebuah rumah indekos di kawasan Jalan Sriwijaya, Kota Semarang. Penyidik meminta keterangan dari pemilik dan sejumlah penghuni indekos untuk mengetahui identitas orang yang pernah berhubungan dengan Mozza. Dari penyelidikan tersebut, petugas memperoleh identitas seorang pria berinisial MDVA yang diketahui berasal dari Kabupaten Blora. Tim kepolisian kemudian bergerak menuju Blora untuk mencari keberadaannya. Setelah melakukan penyelidikan pada 2 dan 3 September 2026, polisi akhirnya mengamankan pria tersebut pada Kamis malam, 3 September. Dalam pemeriksaan awal, yang bersangkutan memberikan keterangan mengenai peristiwa yang terjadi terhadap Mozza. Keterangan tersebut kemudian membawa petugas menuju lokasi tempat jasad korban diduga dibuang.
Berdasarkan pemeriksaan sementara kepolisian, Mozza diduga meninggal pada 25 Juni 2025, hari yang sama ketika dirinya meninggalkan rumah. Polisi menduga peristiwa terjadi di sebuah kamar indekos di wilayah Candisari, Kota Semarang. Sebelum kejadian, korban dan pria yang kini diproses hukum tersebut diduga sempat terlibat perselisihan. Penyidik masih mendalami seluruh rangkaian kejadian untuk memastikan motif, tindakan pelaku, serta bukti yang dapat mendukung konstruksi perkara. Setelah korban meninggal, jasadnya diduga dimasukkan ke dalam karung dan dibawa menggunakan sepeda motor menuju kawasan Jangli. Jasad kemudian diduga dibuang ke jurang yang berada di sekitar Jalan Tol Jangli. Karena telah berada di lokasi tersebut selama lebih dari satu tahun, kondisi jasad ketika ditemukan telah berupa kerangka.
Petugas mengevakuasi kerangka dari kawasan Jangli pada Jumat, 4 September 2026 setelah mendapatkan petunjuk dari hasil pemeriksaan terhadap terduga pelaku. Proses penemuan tersebut sekaligus menjawab misteri hilangnya Mozza yang selama lebih dari setahun menjadi pertanyaan keluarga. Polisi juga mendalami dugaan upaya menghilangkan jejak setelah kejadian. Sejumlah barang milik korban disebut telah dipindahkan atau dibuang di lokasi berbeda. Sepeda motor milik Mozza diduga dijual, sementara telepon genggam korban disebut telah diatur ulang sebelum dibuang di kawasan Kota Lama Semarang. Kartu identitas korban juga ditemukan atau dibuang secara terpisah di wilayah Jalan dr Cipto. Seluruh keterangan tersebut masih menjadi bagian dari penyidikan dan akan dicocokkan dengan barang bukti serta pemeriksaan saksi.
Bagi keluarga, terungkapnya kasus tersebut membawa dua perasaan yang berbeda setelah pencarian panjang. Di satu sisi, mereka akhirnya mendapatkan kepastian mengenai keberadaan Mozza dan dapat memakamkannya secara layak. Namun di sisi lain, kenyataan bahwa Mozza ditemukan meninggal menjadi kabar yang sangat berat untuk diterima. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi juga telah mendatangi rumah duka di Bergas pada Minggu, 6 September 2026 untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga. Ia menyatakan akan membantu mengawal penanganan perkara dan berkoordinasi dengan kepolisian agar proses hukum berjalan sampai tuntas. Keluarga berharap seluruh fakta dalam perkara tersebut dapat diungkap secara jelas. Mereka juga meminta proses hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
Kepolisian kini melanjutkan penyidikan untuk melengkapi bukti dan menyusun secara utuh rangkaian peristiwa yang menyebabkan kematian Mozza. Pemeriksaan terhadap terduga pelaku, saksi, barang bukti digital, serta lokasi yang berkaitan dengan perkara menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Temuan percakapan media sosial menunjukkan bukti digital dapat mempunyai peran besar dalam mengungkap perkara yang sebelumnya mengalami kebuntuan cukup lama. Bagi Singgih dan keluarga, kepastian mengenai nasib Mozza sekaligus mengakhiri pencarian yang berlangsung sejak Juni 2025, meskipun hasilnya jauh dari harapan mereka. Keluarga kini menyerahkan penanganan perkara kepada aparat penegak hukum dan berharap memperoleh keadilan atas kematian Mozza. Kasus tersebut juga menjadi pengingat mengenai pentingnya pelaporan cepat dan penyimpanan bukti digital ketika seseorang dinyatakan hilang. Proses hukum selanjutnya akan menentukan pertanggungjawaban pihak yang diduga terlibat berdasarkan bukti yang berhasil dikumpulkan penyidik.