Jakarta, 4 September 2026 – Presiden Prabowo Subianto mendorong Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia-Uni Ekonomi Eurasia atau Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA) segera diberlakukan setelah seluruh negara anggota menyelesaikan prosedur internal masing-masing. Dorongan tersebut disampaikan Prabowo ketika berpidato dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis, 3 September 2026. Indonesia disebut telah menyelesaikan proses ratifikasi dan kini berharap Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kyrgyzstan, serta Rusia dapat mempercepat tahapan yang diperlukan agar kesepakatan mulai berlaku. Pemerintah menargetkan perjanjian tersebut dapat efektif pada awal 2027 sehingga dunia usaha segera memperoleh manfaat dari penurunan hambatan perdagangan. Prabowo sekaligus mengusulkan target yang lebih ambisius dalam hubungan ekonomi dengan Rusia, yakni menggandakan nilai perdagangan bilateral pada periode peninjauan pertama FTA. Target tersebut mencerminkan keinginan pemerintah mengubah kedekatan politik Indonesia-Rusia menjadi hubungan ekonomi yang semakin konkret.
Perjanjian I-EAEU FTA telah ditandatangani di St. Petersburg pada 21 Desember 2025 setelah melalui rangkaian perundingan antara Indonesia dan EAEU. Kesepakatan tersebut mencakup penghapusan atau penurunan bea masuk terhadap 11.882 pos tarif yang mewakili lebih dari 90 persen barang yang diperdagangkan. Cakupan tersebut memberikan peluang besar bagi produk Indonesia memperoleh akses lebih kompetitif menuju pasar lima negara anggota EAEU. Sebaliknya, produsen dari kawasan Eurasia juga mendapatkan kesempatan memperluas penjualan produknya ke Indonesia. Prabowo menggambarkan perjanjian tersebut sebagai arsitektur perdagangan yang menghubungkan dua kawasan ekonomi dengan karakter berbeda tetapi saling melengkapi. Pemerintah berharap pengurangan hambatan tarif dapat diikuti peningkatan volume perdagangan, diversifikasi produk, dan investasi baru.
Prabowo menekankan Indonesia menawarkan pasar dengan lebih dari 290 juta konsumen kepada pelaku usaha dari kawasan Eurasia. Pada sisi lain, produsen Indonesia memperoleh akses lebih luas menuju pasar Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Rusia. Kombinasi tersebut memberikan peluang bagi perusahaan Indonesia memperluas tujuan ekspor di luar pasar tradisional yang selama ini menjadi tujuan utama. Pemerintah juga melihat posisi geografis Indonesia sebagai keuntungan karena negara ini dapat berfungsi sebagai pintu masuk bagi perusahaan Eurasia menuju pasar Asia Tenggara. Indonesia merupakan perekonomian terbesar di ASEAN sekaligus menjadi bagian dari Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Posisi tersebut membuat investasi yang masuk tidak hanya dapat diarahkan untuk melayani konsumen domestik, tetapi juga berpotensi terhubung dengan rantai pasok regional.
Hubungan perdagangan Indonesia dan Rusia sendiri telah menunjukkan pertumbuhan sebelum FTA diberlakukan. Nilai perdagangan kedua negara sepanjang 2025 tercatat mendekati 5 miliar dolar AS atau meningkat sekitar 21,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Prabowo menilai angka tersebut masih jauh dari potensi ekonomi yang sebenarnya dapat dicapai kedua negara. Karena itu, ia mengusulkan Indonesia dan Rusia menetapkan sasaran yang jelas untuk menggandakan perdagangan selama periode peninjauan pertama pelaksanaan I-EAEU FTA. Target tersebut berarti hubungan ekonomi tidak cukup hanya tumbuh secara bertahap, tetapi perlu mendapatkan dorongan melalui kebijakan dan proyek konkret. Pemerintah ingin momentum FTA digunakan untuk menciptakan peningkatan perdagangan yang dapat diukur dan dirasakan langsung oleh dunia usaha.
Struktur ekonomi Indonesia dan Rusia dinilai memiliki karakter saling melengkapi yang dapat menjadi dasar peningkatan perdagangan. Indonesia memiliki berbagai produk unggulan mulai dari komoditas pertanian dan perkebunan hingga produk manufaktur yang memiliki peluang mendapatkan pasar lebih luas di Eurasia. Rusia pada sisi lain memiliki kekuatan dalam energi, pupuk, teknologi, industri berat, transportasi, serta sejumlah sektor strategis lainnya. Dengan hambatan tarif yang semakin rendah, pelaku usaha memiliki kesempatan mencari produk baru yang sebelumnya kurang kompetitif karena biaya masuk. Diversifikasi tersebut penting agar perdagangan bilateral tidak bergantung pada kelompok komoditas tertentu. Pemerintah berharap hubungan dagang yang lebih beragam dapat membuat kerja sama ekonomi kedua negara memiliki fondasi yang lebih kuat dalam jangka panjang.
Pemberlakuan FTA tetap membutuhkan kesiapan di luar persoalan tarif karena perdagangan tidak dapat meningkat hanya dengan mengurangi bea masuk. Prabowo menyoroti pentingnya konektivitas transportasi antara Indonesia dan Rusia agar barang dapat bergerak dengan biaya dan waktu yang lebih efisien. Pembukaan jalur pelayaran langsung antara Vladivostok dan Indonesia menjadi salah satu gagasan yang didorong untuk memperkuat rantai logistik. Hubungan penerbangan langsung juga dinilai penting karena dapat mendukung mobilitas pelaku usaha, wisatawan, serta masyarakat kedua negara. Tanpa konektivitas memadai, manfaat pengurangan tarif dapat berkurang akibat biaya pengiriman yang tetap tinggi. Karena itu, pemerintah ingin liberalisasi perdagangan berjalan bersama pembangunan jalur logistik yang mendukung arus barang secara nyata.
Sistem pembayaran menjadi bagian lain yang dinilai penting dalam memperkuat perdagangan Indonesia-Rusia. Kondisi geopolitik dan fragmentasi sistem keuangan global membuat dunia usaha membutuhkan mekanisme transaksi yang aman, efisien, dan dapat diandalkan. Prabowo mendorong kerja sama keuangan yang dapat memberikan kepastian bagi perusahaan ketika melakukan pembayaran lintas negara. Infrastruktur keuangan tersebut perlu berjalan bersama peningkatan konektivitas logistik agar perdagangan dapat berkembang secara berkelanjutan. Pemerintah juga mendorong lembaga investasi kedua negara memainkan peran lebih besar dalam membiayai proyek strategis. Danantara dan Russian Direct Investment Fund berpotensi menjadi jembatan yang mempertemukan kebutuhan investasi serta peluang bisnis dari kedua negara.
Pelaku usaha Indonesia juga mulai mempersiapkan diri sebelum perjanjian perdagangan bebas tersebut efektif. Delegasi bisnis yang hadir dalam EEF ke-11 melakukan penjajakan terhadap pengiriman percontohan, pencarian pembeli, pengamanan jalur logistik, serta penyelesaian mekanisme pembayaran. Persiapan sejak dini dianggap penting agar perusahaan tidak baru mulai mencari peluang ketika tarif preferensial telah diberlakukan. Dunia usaha perlu mengetahui produk yang memiliki permintaan, standar yang berlaku, persyaratan teknis, pola distribusi, dan karakter konsumen di negara tujuan. Pemerintah dapat membantu melalui diplomasi ekonomi dan fasilitasi perdagangan, tetapi keberhasilan akhir tetap bergantung pada kemampuan perusahaan menawarkan produk yang kompetitif. FTA karena itu dipandang sebagai pembuka pintu yang harus diikuti kesiapan dunia usaha untuk memanfaatkannya.
Prabowo juga melihat kerja sama dengan EAEU sebagai bagian dari strategi Indonesia memperluas jaringan perdagangan internasional tanpa bergantung pada satu kawasan tertentu. Kebijakan tersebut sejalan dengan pendekatan politik luar negeri bebas aktif yang memungkinkan Indonesia membangun hubungan ekonomi dengan berbagai mitra. Di tengah meningkatnya fragmentasi perdagangan global, diversifikasi pasar dapat mengurangi risiko apabila permintaan atau kebijakan di salah satu kawasan mengalami perubahan. Eurasia menawarkan pasar yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh banyak perusahaan Indonesia. Sebaliknya, Indonesia dapat menawarkan posisi strategis bagi perusahaan Eurasia yang ingin memperluas kegiatan menuju ASEAN. Hubungan tersebut diharapkan berkembang berdasarkan prinsip saling menguntungkan dan tidak hanya menghasilkan peningkatan angka perdagangan.
Dorongan Prabowo agar I-EAEU FTA segera berlaku pada akhirnya diarahkan untuk mempercepat transformasi hubungan Indonesia-Rusia dari kedekatan diplomatik menjadi kemitraan ekonomi yang semakin kuat. Pemerintah telah menyelesaikan ratifikasi dan kini meminta seluruh negara anggota EAEU menuntaskan prosedur internal agar perjanjian dapat digunakan sesegera mungkin. Target pemberlakuan pada awal 2027 memberikan waktu bagi pemerintah dan dunia usaha untuk mempersiapkan regulasi, logistik, sistem pembayaran, serta jaringan bisnis yang diperlukan. Dengan nilai perdagangan 2025 yang sudah mendekati 5 miliar dolar AS, Prabowo menilai ruang pertumbuhan masih sangat besar dan mengusulkan peningkatan hingga dua kali lipat pada periode peninjauan pertama FTA. Penghapusan atau pengurangan tarif pada 11.882 pos diharapkan menjadi salah satu pendorong utama untuk mencapai sasaran tersebut. Jika implementasi berjalan efektif, I-EAEU FTA berpotensi membuka babak baru hubungan ekonomi Indonesia dengan Rusia sekaligus memperluas akses perdagangan Indonesia ke kawasan Eurasia.