Jakarta, 5 September 2026 – Ritual tradisional Na Na Thong kembali menarik perhatian masyarakat Thailand setelah puluhan warga mendatangi sebuah tempat pemujaan di Provinsi Ayutthaya untuk mengikuti prosesi pemberkatan wajah menggunakan lembaran emas. Dalam ritual tersebut, lembaran emas yang sangat tipis ditempelkan secara bertahap pada bagian wajah peserta hingga sebagian di antaranya memilih menutupi hampir seluruh wajah. Tradisi ini dipercaya sebagian masyarakat dapat meningkatkan keberuntungan, kemakmuran, kepercayaan diri, dan daya tarik seseorang dalam menjalani kehidupan maupun kegiatan usaha. Ritual tersebut belakangan semakin ramai diikuti ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi, kenaikan biaya hidup, serta melemahnya aktivitas perdagangan. Bagi para peserta, lembaran emas bukan sekadar hiasan, melainkan simbol spiritual yang dipercaya membantu memperkuat keyakinan terhadap diri sendiri. Tradisi ini tetap merupakan bagian dari kepercayaan masyarakat sehingga manfaat yang diyakini para peserta tidak dapat dipandang sebagai hasil yang terbukti secara ilmiah.
Prosesi terbaru berlangsung di Por Kae Ngoen Lan Park di Ayutthaya, kawasan yang juga dikenal dengan tradisi membunyikan genderang untuk memanggil kekayaan. Para peserta datang dan mengantre sebelum menjalani proses pemasangan lembaran emas pada wajah mereka. Di kawasan tersebut terdapat patung Por Kae, sosok pertapa yang dihormati dalam kepercayaan lokal sebagai simbol kebijaksanaan kuno sekaligus pelindung bagi orang yang mencari keberuntungan. Sebagian peserta juga menempelkan lembaran emas pada patung tersebut sebagai bagian dari penghormatan dan doa. Aroma dupa serta rangkaian pemberkatan melengkapi suasana ritual yang diikuti masyarakat dari berbagai latar belakang. Ada peserta yang hanya menggunakan beberapa lembar emas, sementara lainnya memilih menjalani pemberkatan seluruh wajah hingga tampak seperti mengenakan topeng berwarna keemasan.
Ritual tersebut dipimpin Tong Aek Banturaratchasi, seorang pemimpin ritual berusia 35 tahun yang dalam beberapa bulan terakhir menerima semakin banyak pengunjung. Menurut keyakinan yang dijelaskan Tong Aek, menempelkan emas pada wajah dianggap sebagai cara meningkatkan kekuatan batin sekaligus memberikan rasa percaya diri kepada seseorang. Ia menyebut ritual tersebut cukup populer di kalangan pedagang dan pemilik usaha kecil yang berharap memperoleh kelancaran dalam menjalankan bisnis. Keyakinan terhadap keberuntungan menjadi salah satu alasan masyarakat datang, terutama ketika kegiatan perdagangan sedang menghadapi tekanan. Tong Aek melihat ritual tersebut juga memiliki fungsi psikologis bagi sebagian peserta karena memberikan harapan ketika kondisi kehidupan sedang sulit. Tempat ritual bahkan digambarkannya sebagai ruang bagi masyarakat untuk memperoleh ketenangan batin sebelum kembali menghadapi aktivitas sehari-hari.
Dalam pelaksanaannya, lembaran emas ditempelkan pada beberapa titik wajah seperti dahi, pipi, dan dagu. Jumlah lembaran yang digunakan dapat berbeda berdasarkan jenis pemberkatan yang dipilih peserta maupun tradisi yang dijalankan oleh pemimpin ritual. Beberapa orang hanya menempelkan emas pada titik tertentu, sedangkan peserta yang menjalani pemberkatan penuh akan mendapatkan lembaran emas hingga hampir seluruh permukaan wajah tertutup. Setelah pemasangan selesai, peserta dapat mengikuti rangkaian doa dan pemberkatan lainnya. Sebagian juga menunggu prosesi percikan air suci yang dipercaya melengkapi ritual keberuntungan. Seluruh tahapan tersebut dilakukan berdasarkan tradisi dan keyakinan spiritual yang telah berkembang di masyarakat Thailand.
Na Na Thong memiliki hubungan dengan kepercayaan tradisional Thailand mengenai pesona, keberuntungan, kemakmuran, dan penerimaan sosial. Praktik tersebut telah dikenal dalam berbagai bentuk jauh sebelum kembali populer dalam beberapa waktu terakhir. Secara tradisional, lembaran emas dapat ditempelkan pada titik tertentu di wajah sambil disertai doa atau mantra pemberkatan. Dahi dipercaya berkaitan dengan keberuntungan dan kewibawaan, sementara pipi diasosiasikan dengan pesona serta penerimaan dari orang lain. Area sekitar mulut atau dagu juga kerap dikaitkan dengan kemampuan berbicara dan keberhasilan dalam melakukan negosiasi. Makna tersebut merupakan bagian dari kepercayaan tradisional dan dapat berbeda berdasarkan guru atau kelompok yang menjalankan ritual.
Popularitas ritual saat ini turut dipengaruhi kondisi ekonomi yang membuat sebagian masyarakat mencari dukungan spiritual. Pertumbuhan ekonomi Thailand yang menghadapi tekanan serta biaya hidup yang meningkat menjadi tantangan bagi pedagang dan pemilik usaha kecil. Ketika jumlah pelanggan berkurang atau pendapatan tidak sesuai harapan, sebagian masyarakat memilih mendatangi tempat-tempat spiritual untuk memohon kelancaran usaha. Tong Aek mengatakan orang yang datang tidak selalu berharap perubahan terjadi secara instan, tetapi juga ingin memperoleh kembali rasa percaya diri. Ritual kemudian berfungsi sebagai bentuk dukungan mental bagi peserta yang sedang menghadapi ketidakpastian. Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana tradisi dan kepercayaan lokal tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat modern Thailand.
Salah seorang peserta, Anong Puusap yang berusia 49 tahun, mengaku kembali mengikuti ritual setelah sebelumnya menjalani pemberkatan sebagian wajah. Ia mengatakan kunjungan pertamanya dilakukan pada awal Agustus ketika hanya beberapa bagian wajahnya yang ditempeli emas. Menurut pengakuannya, sebuah kesepakatan bisnis yang sedang diusahakan kemudian berhasil diperoleh pada pertengahan bulan. Pengalaman tersebut membuat Anong kembali untuk menjalani pemberkatan seluruh wajah dan mengajak beberapa temannya. Ia menghubungkan keberhasilan bisnis tersebut dengan keyakinannya terhadap ritual yang dijalani. Namun, pengalaman pribadi seperti itu tidak membuktikan adanya hubungan sebab-akibat antara pemasangan lembaran emas dengan keberhasilan ekonomi seseorang.
Peserta lain bernama Atchara Eimsaard mengaku telah mengikuti ritual tersebut sebanyak empat atau lima kali. Perempuan berusia 35 tahun yang menjalankan usaha makanan berdasarkan pesanan itu memilih pemberkatan seluruh wajah pada kunjungan terbarunya. Setelah wajahnya dipenuhi lembaran emas, ia menunggu prosesi pemberkatan menggunakan air suci sebelum melanjutkan kegiatannya. Atchara berharap ritual tersebut memberikan keberuntungan bagi perjalanan maupun usaha yang dijalankannya. Kehadiran peserta yang kembali berkali-kali memperlihatkan kuatnya kepercayaan sebagian masyarakat terhadap tradisi tersebut. Bagi mereka, ritual menjadi bagian dari cara memperoleh ketenangan dan optimisme ketika menghadapi pekerjaan maupun persoalan ekonomi.
Penggunaan lembaran emas sendiri memiliki sejarah panjang dalam praktik spiritual dan keagamaan di Thailand. Emas kerap digunakan sebagai simbol penghormatan dan dapat ditemukan menempel pada patung maupun benda yang dianggap suci. Dalam ritual Na Na Thong, simbol tersebut kemudian diterapkan pada tubuh peserta dengan makna yang lebih berkaitan dengan keberuntungan dan pesona pribadi. Lembaran emas yang digunakan memiliki ukuran sangat tipis sehingga mudah menempel ketika bersentuhan dengan kelembapan atau minyak pada kulit. Tekanan ringan membuat lapisan tersebut terpecah menjadi bagian sangat kecil dan mengikuti permukaan wajah. Fenomena fisik itu berbeda dengan berbagai manfaat spiritual yang diyakini peserta, yang tetap berada dalam ranah tradisi dan kepercayaan.
Ramainya kembali ritual Na Na Thong memperlihatkan bagaimana tradisi lama dapat memperoleh perhatian baru ketika masyarakat menghadapi ketidakpastian ekonomi. Para peserta datang dengan alasan yang berbeda, mulai dari mencari keberuntungan dalam usaha hingga sekadar mendapatkan ketenangan dan rasa percaya diri. Bagi sebagian masyarakat Thailand, menjalani ritual tersebut tidak menggantikan kerja dan usaha sehari-hari, tetapi menjadi bentuk dukungan spiritual yang menyertai keduanya. Tempat pemujaan di Ayutthaya pun semakin ramai oleh warga yang ingin mencoba pemberkatan dengan lembaran emas. Popularitasnya sekaligus memperlihatkan kuatnya hubungan antara tradisi, keyakinan, dan kehidupan ekonomi masyarakat setempat. Di tengah perubahan kehidupan modern, Na Na Thong tetap bertahan sebagai salah satu praktik budaya yang dipercaya sebagian masyarakat membawa harapan akan keberuntungan dan kemakmuran.