Jakarta, 21 September 2026 – Tim arkeolog di Arab Saudi menemukan sebuah masjid berusia lebih dari 1.300 tahun di situs Al-Ma’mala, wilayah Al-Baha, bagian barat daya negara tersebut. Bangunan itu diperkirakan berasal dari abad pertama Hijriah atau sekitar abad ketujuh hingga awal abad kedelapan Masehi. Penemuan dilakukan dalam musim keempat penggalian arkeologi di kawasan tersebut. Selain struktur masjid yang masih dapat dikenali, para peneliti menemukan sejumlah inskripsi Arab yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan masyarakat Islam pada masa awal. Temuan tersebut dinilai penting karena memberikan bukti fisik mengenai perkembangan komunitas Muslim di Semenanjung Arab lebih dari satu milenium lalu. Situs itu juga memperlihatkan hubungan antara kegiatan keagamaan, permukiman, pertambangan, dan perdagangan pada masa tersebut.
Masjid ditemukan di bagian barat permukiman kuno Al-Ma’mala yang berada di wilayah Al-Baha, tidak jauh dari Al-Aqiq. Berdasarkan hasil penggalian, bangunan tersebut memiliki ukuran sekitar 16 meter dari utara ke selatan dan sekitar 10 meter dari timur ke barat. Dindingnya dibangun menggunakan balok-balok granit yang dipotong dan disusun secara teratur. Jejak plester gipsum yang masih ditemukan menunjukkan bagian tertentu dari interior masjid kemungkinan pernah memiliki permukaan dinding yang dilapisi. Struktur bangunan yang relatif jelas memungkinkan arkeolog mempelajari tata ruang tempat ibadah tersebut. Kondisi itu memberikan gambaran mengenai teknik pembangunan yang digunakan masyarakat setempat pada periode Islam awal.
Salah satu temuan penting berada pada dinding kiblat masjid. Arkeolog menemukan inskripsi yang memuat doa serta penyebutan Muhammad bin Abdullah, bersama ungkapan keagamaan lainnya. Tulisan tersebut menjadi bukti langsung mengenai bahasa keagamaan yang digunakan komunitas yang pernah menempati kawasan itu. Inskripsi juga ditemukan pada batu di bagian dalam maupun luar struktur masjid. Keberadaan tulisan dalam konteks arkeologis yang masih berkaitan langsung dengan bangunan membuat temuan tersebut memiliki nilai penelitian yang tinggi. Para peneliti dapat menggabungkan informasi dari tulisan dengan karakter arsitektur untuk memahami fungsi dan periode penggunaan bangunan.
Selain inskripsi, struktur masjid memiliki mihrab yang menunjukkan arah kiblat. Tiga akses masuk ditemukan masing-masing pada sisi timur, barat, dan selatan bangunan. Di bagian tenggara kompleks juga terdapat struktur berbentuk persegi yang ditafsirkan sebagai bagian dari menara. Temuan tersebut memberikan gambaran mengenai unsur-unsur arsitektur yang telah digunakan pada masjid di kawasan tersebut sejak periode awal Islam. Para arkeolog juga mengidentifikasi delapan ruangan yang berdampingan dengan bangunan utama. Ruangan tersebut diperkirakan mendukung aktivitas sosial maupun kegiatan masyarakat yang berlangsung di sekitar masjid.
Keberadaan masjid menjadi semakin menarik karena Al-Ma’mala bukan sekadar kawasan permukiman keagamaan. Bukti arkeologis menunjukkan daerah tersebut berkembang sebagai pusat aktivitas pertambangan dan pengolahan mineral. Emas, perak, serta tembaga menjadi beberapa komoditas yang diketahui pernah ditambang dan diproses oleh masyarakat setempat. Penggalian pada musim sebelumnya menemukan berbagai instalasi dan peralatan yang berkaitan dengan kegiatan tersebut. Analisis terhadap temuan menunjukkan aktivitas pertambangan telah berlangsung sebelum periode Islam dan kemudian berkembang cukup intensif antara akhir abad keenam hingga abad kesembilan Masehi. Dengan rentang waktu tersebut, Al-Ma’mala menjadi situs penting untuk mempelajari perubahan masyarakat menjelang dan setelah berkembangnya Islam.
Berbagai benda yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari juga ditemukan selama penggalian. Arkeolog memperoleh pecahan wadah dari batu sabun dan keramik, alat penumbuk, batu penggiling, serta perlengkapan lain yang digunakan untuk kebutuhan domestik maupun produksi. Temuan tersebut menunjukkan kawasan Al-Ma’mala pernah dihuni komunitas yang menjalankan aktivitas ekonomi cukup beragam. Para penambang, pekerja logam, pedagang, dan kelompok masyarakat lainnya diperkirakan hidup serta bekerja di kawasan tersebut. Masjid kemungkinan menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi komunitas yang berkembang bersama aktivitas ekonomi itu. Hubungan antara tempat ibadah dan kawasan produksi memberikan gambaran lebih lengkap mengenai kehidupan masyarakat pada periode Islam awal.
Lokasi Al-Ma’mala juga memiliki posisi yang mendukung perkembangan aktivitas perdagangan. Situs tersebut berada sekitar 13 kilometer sebelah timur Al-Aqiq dan kurang lebih 45 kilometer dari Al-Baha. Kawasan itu berada dekat jalur kuno yang dikenal sebagai Darb Al-Feel atau Jalan Gajah. Jalur tersebut pernah menghubungkan wilayah selatan Semenanjung Arab dengan kawasan di sebelah utara. Setelah berkembangnya Islam, jaringan perjalanan di kawasan tersebut juga dimanfaatkan oleh para pelancong dan jemaah. Posisi strategis ini membantu menjelaskan mengapa permukiman dengan aktivitas pertambangan, perdagangan, hunian, dan keagamaan dapat berkembang di Al-Ma’mala.
Penemuan masjid tersebut memberikan kesempatan kepada peneliti untuk memahami perkembangan arsitektur Islam melalui bukti fisik yang berasal dari periode sangat awal. Masjid-masjid dari abad pertama Hijriah memiliki nilai khusus karena dibangun ketika bentuk dan unsur arsitektur tempat ibadah Islam masih mengalami perkembangan. Penggunaan material lokal seperti granit menunjukkan masyarakat menyesuaikan kebutuhan tempat ibadah dengan sumber daya dan tradisi konstruksi yang tersedia di wilayahnya. Mihrab, arah kiblat, inskripsi, serta susunan ruang memberikan petunjuk mengenai bagaimana bangunan tersebut digunakan. Para peneliti masih perlu melakukan kajian lebih lanjut untuk menentukan secara lebih rinci kapan masjid pertama kali dibangun dan berapa lama digunakan. Penggalian lanjutan juga dapat mengungkap perubahan yang terjadi pada struktur tersebut selama kehidupan permukiman Al-Ma’mala.
Nilai penting penemuan tidak hanya terletak pada usia bangunan yang telah melampaui 1.300 tahun. Kombinasi antara masjid, inskripsi, permukiman, fasilitas pertambangan, serta benda-benda keseharian memberikan gambaran mengenai sebuah komunitas yang hidup pada masa transformasi besar di Semenanjung Arab. Bukti tersebut membantu memperlihatkan bahwa perkembangan masyarakat Islam awal berlangsung bersama aktivitas ekonomi dan jaringan perdagangan regional. Inskripsi yang masih bertahan menjadi salah satu penghubung langsung dengan masyarakat yang pernah beribadah di lokasi tersebut berabad-abad lalu. Penelitian di Al-Ma’mala akan terus dilakukan untuk mendokumentasikan sekaligus melindungi peninggalan yang masih tersimpan di kawasan tersebut. Temuan berikutnya diharapkan dapat memperjelas sejarah masjid dan peran Al-Ma’mala dalam kehidupan sosial, ekonomi, serta keagamaan pada masa Islam awal.