Jakarta, 27 September 2026 –
Rhoma Irama bersama Soneta Group kembali membuktikan daya tariknya di hadapan penonton lintas generasi ketika tampil dalam Pestapora 2026 di kawasan JIExpo Kemayoran, Jakarta. Penampilan sang Raja Dangdut menjadi salah satu agenda yang menyedot perhatian pada hari kedua festival, Sabtu malam. Ribuan penonton memadati area panggung untuk menyaksikan langsung deretan lagu yang telah melekat dalam perjalanan panjang musik dangdut Indonesia. Sejumlah penonton muda terlihat ikut bernyanyi bersama generasi yang lebih dahulu mengenal karya-karya Rhoma. Suasana tersebut membuat pertunjukan tidak hanya terasa sebagai konser, tetapi juga menjadi ruang nostalgia bagi para penggemarnya.
Rhoma tampil bersama Soneta dengan membawakan sederet lagu populer dari katalog panjangnya. “Viva Dangdut” menjadi salah satu lagu pembuka yang segera memancing penonton bergoyang, kemudian disusul sejumlah karya seperti “Malam Minggu”, “Tabir Kepalsuan”, “Badai Fitnah”, hingga “Gali Lobang Tutup Lobang”. Lagu-lagu yang telah dikenal selama puluhan tahun tersebut tetap mendapatkan respons besar dari penonton Pestapora. Sebagian pengunjung bernyanyi mengikuti lirik, sementara lainnya bergoyang mengikuti karakter musik Soneta yang memadukan dangdut dengan unsur rock. Kehadiran Rhoma sekaligus memberikan warna berbeda di tengah beragam genre yang ditampilkan sepanjang festival.
Antusiasme penonton juga memperlihatkan bagaimana karya Rhoma tetap menjangkau pendengar dari berbagai kelompok usia. Pestapora sendiri menghadirkan banyak musisi dari generasi dan genre berbeda, mulai dari pop, rock, alternatif hingga dangdut. Pada hari kedua, nama-nama seperti Mahalini, Lomba Sihir, Perunggu, Raisa, dan Rhoma Irama turut memeriahkan festival. Pertemuan berbagai generasi musisi tersebut membuat penonton dapat berpindah dari satu karakter pertunjukan menuju karakter lainnya dalam satu kawasan. Di tengah keragaman itu, lagu-lagu lama Rhoma tetap mampu menciptakan nyanyian bersama yang kuat.
Penampilan di Pestapora 2026 juga melanjutkan kedekatan Rhoma dengan festival tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Pada Pestapora 2025, Rhoma dan Soneta sempat tampil dalam format pertukaran lagu bersama Maliq & D’Essentials. Konsep itu kemudian kembali dibawa dalam rangkaian OTW Pestapora pada Mei 2026, ketika kedua kelompok tersebut memainkan karya satu sama lain dengan pendekatan musikal berbeda. Rhoma bahkan membawakan sejumlah lagu Maliq & D’Essentials, sementara karya-karyanya mendapat sentuhan baru dari kelompok tersebut. Eksperimen lintas genre itu membantu memperkenalkan kembali katalog Rhoma kepada kelompok penonton yang lebih muda.
Sebelum tampil di Jakarta, Rhoma juga menjadi bagian dari Latihan Pestapora Malaysia 2026 yang digelar di Stadion Hoki Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur, pada Agustus. Penampilan tersebut menjadi momen penting karena Rhoma kembali tampil di Malaysia setelah sekitar dua dekade tidak menggelar pertunjukan di negara tersebut. Rangkaian penampilan sepanjang tahun memperlihatkan Soneta masih aktif membawa katalog musiknya ke berbagai panggung besar. Hal itu sekaligus mempertemukan karya-karya yang telah berusia puluhan tahun dengan format festival modern. Pestapora menjadi salah satu panggung tempat pertemuan antargenerasi tersebut terlihat jelas.
Selain menghadirkan nostalgia, pertunjukan Rhoma tetap mempertahankan karakter yang selama ini menjadi cirinya, yakni menyisipkan pesan sosial di antara hiburan musik. Sejumlah karya yang dibawakannya memang dikenal tidak hanya berbicara mengenai cinta, tetapi juga persoalan sosial dan kehidupan masyarakat. Dalam penampilannya kali ini, Rhoma turut menyampaikan pesan antikorupsi kepada penonton menjelang akhir pertunjukan. Seruan tersebut mendapat respons dari massa yang memenuhi area panggung. Kombinasi musik, pesan sosial, dan interaksi dengan penonton kembali menjadi bagian dari identitas pertunjukan Rhoma bersama Soneta.
Pestapora 2026 berlangsung selama tiga hari pada 25–27 September di Gambir Expo dan Hall D2 JIExpo Jakarta dengan konsep perayaan musik yang mempertemukan banyak musisi Indonesia. Kehadiran Rhoma Irama menunjukkan bahwa panggung festival tidak hanya menjadi ruang bagi karya-karya baru, tetapi juga memberikan tempat bagi katalog musik lintas zaman. Lagu-lagu yang telah dikenal selama beberapa dekade tetap mampu menggerakkan penonton untuk bernyanyi dan bergoyang bersama. Bagi penggemar lama, penampilan tersebut menghadirkan kembali berbagai kenangan yang melekat pada karya Soneta, sedangkan bagi penonton muda menjadi kesempatan menyaksikan langsung salah satu figur penting dalam sejarah dangdut Indonesia. Malam itu, Rhoma dan Soneta menjadikan Pestapora sebagai ruang nostalgia yang tetap terasa hidup di tengah generasi baru pendengar musik.