Jakarta, 1 Juni 2026 – Final Liga Champions 2025/2026 antara Paris Saint-Germain (PSG) dan Arsenal tidak hanya menyajikan pertandingan sengit yang berakhir lewat adu penalti, tetapi juga dipenuhi sejumlah keputusan kontroversial yang memicu perdebatan luas. Sepanjang laga yang berlangsung di Puskas Arena, Budapest, beberapa momen krusial melibatkan keputusan wasit Daniel Siebert dan tim VAR menjadi sorotan para pemain, pelatih, pengamat, hingga suporter kedua tim. Kontroversi tersebut bahkan disebut ikut memengaruhi jalannya pertandingan yang akhirnya dimenangkan PSG dengan skor 4-3 melalui adu penalti setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit. Sejumlah insiden dianggap merugikan salah satu tim dan terus menjadi bahan diskusi setelah pertandingan berakhir. Berikut tiga kontroversi terbesar yang paling banyak dibicarakan dari laga final tersebut.
Kontroversi pertama terjadi pada menit ke-16 ketika PSG meminta hadiah penalti setelah bola hasil sepak pojok mengenai tangan Bukayo Saka di dalam kotak penalti Arsenal. Para pemain PSG langsung mengangkat tangan dan mendesak wasit untuk menunjuk titik putih. Namun setelah mempertimbangkan situasi yang terjadi, Daniel Siebert memutuskan untuk melanjutkan pertandingan tanpa memberikan penalti. Tim VAR juga tidak melakukan intervensi karena menilai insiden tersebut tidak memenuhi kriteria pelanggaran handball yang dapat berujung penalti. Keputusan itu memicu perdebatan karena sebagian pihak menilai kontak bola dengan tangan Saka cukup jelas, sementara pihak lain menganggap posisi tangan pemain Arsenal masih berada dalam posisi alami dan bola berasal dari pantulan jarak dekat.
Kontroversi kedua muncul saat PSG mendapatkan penalti pada menit ke-63. Wasit menunjuk titik putih setelah Khvicha Kvaratskhelia dijatuhkan Cristhian Mosquera di area terlarang Arsenal. Setelah melakukan pengecekan melalui VAR, keputusan tersebut tetap dipertahankan dan Ousmane Dembele berhasil mengonversi penalti menjadi gol penyama kedudukan. Kubu Arsenal sempat mempertanyakan keputusan itu karena menilai kontak yang terjadi tidak cukup kuat untuk menghasilkan penalti. Namun VAR menilai pelanggaran memang terjadi sehingga keputusan awal wasit tidak diubah. Gol dari titik putih tersebut menjadi salah satu momen paling menentukan dalam pertandingan karena mengubah jalannya laga dan memaksa Arsenal bermain lebih defensif setelah kehilangan keunggulan mereka.
Kontroversi ketiga sekaligus yang paling ramai dibicarakan terjadi pada babak perpanjangan waktu, tepatnya sekitar menit ke-103. Noni Madueke terjatuh di dalam kotak penalti PSG setelah berduel dengan Nuno Mendes. Para pemain Arsenal langsung mengepung wasit dan meminta penalti karena merasa Madueke dijatuhkan secara tidak sah. Mikel Arteta dan Declan Rice bahkan terlihat sangat emosional hingga menerima kartu kuning akibat protes keras kepada perangkat pertandingan. Namun Daniel Siebert tetap pada keputusannya untuk tidak memberikan penalti dan VAR juga tidak menganggap insiden tersebut sebagai kesalahan yang jelas dan nyata. Keputusan itu memicu kemarahan kubu Arsenal karena mereka merasa kehilangan peluang emas untuk memenangkan pertandingan sebelum adu penalti. Banyak mantan pemain dan pengamat sepak bola juga terbelah pendapat mengenai insiden tersebut.
Selain tiga insiden utama tersebut, Arsenal juga sempat memprotes keputusan wasit yang meniup peluit akhir babak pertama tepat ketika mereka mendapatkan sepak pojok. Tim asuhan Mikel Arteta dikenal sangat berbahaya dalam situasi bola mati sehingga keputusan menghentikan pertandingan sebelum sepak pojok dieksekusi membuat para pemain Arsenal menunjukkan ketidakpuasan. Meskipun tidak sebesar kontroversi penalti, momen itu tetap menjadi bahan pembicaraan karena dianggap menghilangkan kesempatan potensial bagi Arsenal untuk menambah keunggulan sebelum turun minum.
Rangkaian keputusan kontroversial tersebut membuat final Liga Champions musim ini menjadi salah satu yang paling banyak diperbincangkan dalam beberapa tahun terakhir. Meski PSG akhirnya keluar sebagai juara melalui adu penalti, berbagai insiden yang melibatkan wasit dan VAR terus memicu perdebatan di kalangan pecinta sepak bola. Bagi Arsenal, sejumlah keputusan itu dianggap sebagai momen yang sangat memengaruhi peluang mereka meraih trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub. Sementara bagi PSG, kemenangan tetap menjadi catatan penting yang mempertegas dominasi mereka di kompetisi Eropa dalam dua musim terakhir.